Rabu, 04 Januari 2012

Menyikapi Kegagalan

Menyikapi Kegagalan

Satu hal yang paling membedakan antara orang sukses dengan tidak adalah bagaimana cara mereka menyikapi kegagalan.

Seorang yangberjiwa besar akan menganggap kegagalan sebagai bumbu kehidupan dan proses menuju keberhasilan. Sementara seorang pecundang menganggap kegagalan sebagai momok yang menakutkan sehingga mereka putus asa dan menyerah.

Coba tanyakan kepada orang yang sukses apakah mereka pernah mengalami kegagalan? Jawabannya pasti pernah. Tahukah berapa banyak kegagalan yang pernah mereka alami? Jawabannya mungkin bisa beragam, tapi tak jarang kita akan mendengar bahwa mereka telah gagal puluhan bahkan ratusan kali sebelum akhirnya berhasil. Perbedaannya adalah mereka bangkit kembali dan berjalan lagi sampai akhirnya bertemu dengan keberhasilan. Dan seandainya keberhasilan itu pun tak kunjung datang, bukankah kegagalan itu sendiri sebuah proses pembelajaran yang mencerahkan?

Suatu hari Thomas Alfa Edison ditanya oleh asistennya ketika melakukan percobaan untuk membuat lampu pijar, “Anda telah melakukan percobaan ribuan kali untuk menemukan bahan filamen yang tepat. Apakah Anda tidak lelah? Bukankah kita telah melakukan ini ribuan kali dan tidak pernah berhasil?

Edison menjawab, “Dalam setiap percobaan, saya selalu belajar untuk menemukan bahan yang paling tepat untuk lampu pijar. Apa yang kamu anggap kegagalan buat saya adalah keberhasilan yang tertunda. Saya yakin dalam waktu dekat saya akan menemukannya.”

Edison benar dan dia menjadi penemu lampu pijar yang kita nikmati sampai sekarang. Dia mengajarkan kegigihan dan semangat pantang menyerah dalam menjalankan tugasnya. Sepanjang hidupnya, Edison telah menghasilkan ribuan paten atas penemuan­penemuannya.


Jangan pernah menyerah atas kegagalan. Itu adalah sebuah proses keberhasilan yang tertunda. Bangkitlah kembali dan jadilah orang yang berjiwa besar yang tidak peduli berapa kali mereka akan terjatuh, dia akan berdiri dan berjalan lagi.

“Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat tidak mau menyampaikannya kepada orang lain (kikir).” (QS. Al­Maa’arij [70]:19­21).

Hidup yang kita jalani dipenuhi rintangan dan membutuhkan kekuatan diri untuk keluar dari rintangan yang menghadang. Kesulitan ekonomi, penderitaan, dan ketidaksesuaian harapan dengan kenyataan adalah bentuk kongkrit rintangan tersebut. Bagi orang yang lemah jiwanya, rintangan dipahami sebagai “batu sandungan” yang sulit dilalui.

Fenomena bunuh diri, misalnya, notabene diinisiasi kelemahan jiwa semacam ini. Karena impitan ekonomi, tak sedikit bunuh diri menjadi jalan menyelesaikan masalah kehidupan.Ayat yang saya kutip di atas memberi pesan: kerapuhan jiwa dapat mengakibatkan lahirnya keluh kesah yang tak produktif. Ketika kesusahan hidup menerpa, tali kekang moral agama menjadi longgar. Tak ayal lagi, kehidupan menjadi barang murah yang sedemikian tak berharga untuk dijaga kelangsungannya.

Seorang gadis, rela melompat dari gedung bertingkat hanya diakibatkan masalah sepele: putus dengan kekasihnya. Seorang pengusaha melakukan hal yang sama, karena sedang menghadapi kemelut masalah di perusahaannya. Mereka memahami hidup hanya dengan menggunakan rumus keinginan mesti berbuah kenyataan.

Padahal rumus kehidupan tidak seperti itu. Adakalanya keinginan melahirkan kegagalan atau ketidaksesuaian dengan realitas hidup. Maka sewajibnya moralitas agama diperkokoh kembali dalam diri kita. Sehingga hidup mewujud dalam bentuk yang asyik­masyuk. Ruang dan waktu yang dijalani dengan keikhlasan penuh bahwa Dia (Allah) sedang menguji kadar keimanan kita pada­Nya.

Ingat, lemparan batu tentu saja tidak semuanya akan mengenai target yang sama. Artinya, pengharapan adakalanya tidak sesuai dengan yang kita rancang. Pada posisi ini, kesabaran dan ketabahan merupakan benteng pertahanan yang super­duper efektif meredam keinginan mengakhiri hidup kala masalah menerpa.

Seorang muslim sejati, ialah individu yang dapat mengoptimalkan potensi diri untuk mewujudkan harapan, tanpa terpaku pada hasil. Dia (Allah) akan memberikan berkah tak terkira meskipun harapan itu gagal terwujud. Karena dengan kegagalan tersebut, kita dapat mempelajari kekurangan sehingga di lain waktu dapat dikurangi.

Inilah letak keberkahan tak terkira. Kita, dengan kegagalan yang menimpa akan membentuk jiwa hingga menjadi kokoh. Alhasil, muncul sikap hati­hati, awas dan waspada ketika menyusun program kerja kehidupan. Dalam pepatah disebutkan, seorang manusia bijaksana adalah orang yang tidak akan terperosok pada lubang yang sama.

Di dalam Al­quran dijelaskan, “Dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan (memberi potensi) pada jiwa kefasikan (pengingkaran terselubung) dan ketakwaan. Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa dan merugilah orang yang mengotorinya.” (QS. Asy­Syams [91]: 7­10).

Term “takwa” memiliki arti dasar, sebuah ketakutan jiwani. Ketika rasa takut dikelola secara bijak, positif dan sistematis, tentunya lahirlah sebuah kondisi psikologis yang awas dan waspada. Namun, ketika perasaan takut tidak dikelola secara bijak, positif dan sistematis akibatnya akan melahirkan keluh kesah, putus asa, dan bosan menjalani kehidupan. Tak heran kalau bunuh diri menjadi solusi pavorit orang semacam ini.

Kekuatan dalam dirinya telah hilang dan berangsur­angsur membawanya jadi zombie yang tak sadar antara ide dan realitas kadang tidak sesuai.

Danah Zohar dan Ian Marshall (Spiritual Capital, Mizan, 2006) mengatakan untuk menjalani kehidupan diperlukan keberanian mengubah pola pikir mengenai pondasi filosofis dan praktik keseharian. Khusus di dunia bisnis, katanya, selain modal intelektual (intellectual capital), modal manusia (human capital), dan modal sosial (social capital); tahap yang lebih maju adalah adanya modal spiritual (spiritual capital).

Di mana sebuah aktivitas tidak melulu dipahami sebagai keuntungan dan laba material. Tapi keuntungan yang lebih mengarah pada terciptanyanya makna, nilai, pengetahuan dan ilmu.

Begitu pun dalam praktik keseharian, kita mesti memompa potensi diri sehingga terbentuk “modal spiritual” agar dapat memahami hidup sebagai ladang beramal saleh. Tanpa memiliki modal seperti ini, mind set kita akan menempatkan hidup sebagai barang murah yang dapat diakhiri dengan bunuh diri. Pola pikir seperti inilah yang mesti ditumpurludeskan dari dalam diri. Pesimisme dalam Islam tak dianjurkan.

Seperti diungkapkan Buya Safi’i Ma’arif, kalau saja Al­Quran mengajarkan doktrin pesimisme, saya orang pertama yang mendukung. Sayangnya, Al­Quran (Islam) hanya mengajarkan doktrin kehidupan optimisme.

Masa depan merupakan “bumbu kehidupan” yang dapat melecut gairah menjalani realitas kehidupan. Kewajiban kita sebagai manusia beragama salah satunya menabur benih­benih optimisme guna menggapai keberkahan hidup.

Bukankah Al­quran mengingatkan, “Hai orang­orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.”(QS. Al­Hasyr [59]:18).

“Kegagalan adalah ketidakmampuan menghadapi sesuatu yang diluar batas kemampuan kita, sedangkan keberhasilan adalah kemampuan tanpa batas yang muncul secara alami dari dalam diri kita untuk menghadapi sesuatu yang diluar batas kemampuan kita”Setiap orang pasti pernah mengalami “Kegagalan”.

Kegagalan yang berasal dari kata dasar “Gagal” merupakan suatu kondisi dimana kita tidak mampu mencapai suatu tujuan ataupun meraih suatu keinginan. Banyak orang didunia ini yang sering mengalami kegagalan, tak terkecuali yang nulis.

Dari sekian banyak orang tersebut, aku pribadi lebih dan akan memberi acungan 4 jempol buat para ilmuwan dan penemu dalam segala bidang, baik itu sains maupun non sains. Misalnya seorang tokoh penemu pesawat telepon yaitu Alexander Graham Bell.

Apakah kita tau, berapa kali dia melakukan percobaan dan berapa kali dia gagal...? kita semua tidak tau pasti dan yang kita tau justru penemuan yang sampai saat ini masih digunakan dan dikembangkan lagi.

Seorang ilmuwan seperti A G Bell tersebut sudah mendedikasikan dirinya untuk satu hal, yaitu project ilmiah yang di garap. aku dan kamu tentu yakin, bahwa A G Bell pernah mengalami kegagalan...cuma masalahnya disini, kenapa dia bisa berhasil menyelesaikan projectnya tersebut meskipun mengalami berbagai kegagalan....

Pertanyaan yang akan dan pasti ditanyakan oleh semua orang yang pernah dan bahkan selalu gagal disetiap misi dan tujuan yang ingin dicapai baisanya adalah “BAGAIMANA CARA TERBAIK MENYIKAPI KEGAGALAN” ?

Ya...bagaimana cara terbaik untuk menyikapi kegagalan itu ???Berikut ini ada bebrapa cara yang mungkin bisa menjadi referensi bagi siapa saja yang mau mencoba menyikapi kegagalan secara positif :

1. Tanamkan dalam diri anda bahwa kegagalan merupakan sebuah pelajaran berharga yang tidak akan pernah anda dapatkan di manapun. Seseorang yang mengalami kegagalan biasanya merupakan orang yang ingin berubah atau ingin selangkah lebih maju yang dalam perjalanannya menuai kegagalan. Jika kita yakin bahwa gagal=pelajaran, maka kita akan mulai belajar dari kegagalan itu dan berusaha untuk menaklukkan kegagaln itu sehingga terwujudlah kesuksesan yang hakiki.

2. Pelajari hal­hal yang berhubungan dengan tujuan yang ingin anda capai dengan sungguh. Mencoba adalah sesuatu yang mutlak harus dilakukan ketika anda menginginkan perubahan. Tapi pernahkan terpikir dalam benak anda untuk lebih memantapkan diri dulu sebelum melangkah lebih jauh.

3. Maju terus pantang mundur. Kalau udah gagal kebanyakan paasti nyerah, nah bagi anda yang ingin terus maju tanamkan dalam diri anda untuk maju terus pantang mundur.

4. Ceritakan masalah kegagalan anda kepada orang­orang terdekat anda. Bagaimanapun juga, kita hidup butuh orang lain apalagi peran keluarga didalam manggapai cita2 adalah sangat besar. oleh karena itu, jangan sungkan untuk curaht dan menceritakan semuanya kepada keluarga anda. karena keluarga anda adalah supporter utama anda dalam meraih tujuan , angan, impian dancita­cita.

5. Jangan lupa berdo’a. Segala sesuatu yang terjadi didunia ini pasti atas kehendakNYA. oleh karena itu sangat aku sarankan untuk berikhtiar dan berdoa kepada yang maha kuasa dan kita harus yakin bahwa suatu saat kita akan berhasil meskipun saat ini kita terus menuai kegagalan.

6. Pelajarilah segala sesuatunya sebelum anda melangkah lebih jauh. Ibarat anak sekolahan, sebelum menghadapi ujian malamnya harus belajar. hal ini juga harys anda lakukam ketika anda gagal dan ingin mencoba lagi. sebelum mencoba lagi, ada baiknya anda mempelajari segala sesuatunya terlebih dahulu dengan lebih cermat dan hati2.

Tak ada gading yang tak retak, tak ada sesuatu yang sempurna didunia ini. sepenggal tulisan ini mudah2an dapa t membantu memberi udara segar bagi saudara2ku yang kerap kali menuai kegagalan.Namun pada hakekatnya, segala sesuatunya tidak akan pernah terjadi tanpa ijin dan kehendak yang maha kuasa.

Tips Untuk Menghadapi Kegagalan

Bersikap dan Berfikir Positif Terhadap Kegagalan.

Ingat! Kegagalan bukanlah sesuatu yang harus ditakuti. Tanpa ada sikap positif, Anda akan semakin stress setelah mengalami kegagalan. Anda seakan kehilangan energi untuk bangkit kembali karena selalu dibayang­bayangi takut gagal. Dengan bersikap, positif, Anda memandang suatu kegagalan sebagai peristiwa hidup yang harus dialami (proses kehidupan). Dengan demikian, mental Anda akan semakin kuat. Percayalah pasti ada sebuah hikmah dari sebuah kegagalan.

Mencari Penyebab Kegagalan.

Renungkan diri sendiri, apa yang menjadi penyebab Anda gagal? Secara umum, ada dua faktor utama penyebab kegagalan, yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktro internal merupakan faktor yang berasal dari dalam diri sendiri. Ada kalanya Anda kuran memiliki semangat dan mptovasi dalam mengerjakan sesuatu atau mungkin Anda tidak disiplin dan ceroboh dalam bekerja. Jika Anda menyadari penyebab internal ini, maka harus Anda sendiri yang merubahnya. Ingat! sukses atau tidaknya Anda dimulai dari dalam diri sendiri, jika Anda bisa memotivasi diri sendiri, selanjutnya Anda akan lebih ringan melangkah. Sedangkan faktor Eksternal merupakan faktor penyebab di luar
diri sendiri. Misalnya kurangnya dukungan dari orang terdekat, pesaing yang terlalu banyak dan ketat, atau kurangnya fasilitas dan sebagainya.

Atasi Kegagalan

Setelah mengetahui kegagalan, Anda harus segera mencoba mengatasinya. Tidak perlu harus mengatasi semua penyebab kegagalan sekaligus, ada baiknya dilakukan secara bertahap tetapi pasti. Prioritaskan penyebab utama, kemudian penyebab lainnya. Karena itu, buat catatan tentang ha l­hal yang sering membuat Anda gagal, apakah faktor internal atau eksternal (buat skala prioritas). Jangan mencari kambing hitam dalam mencari penyebab kegagalan Anda.

Gali Kekuatan Diri

Selain mencari penyebab kegagalan, catatlah apa saja kekuatan dan potensi diri Anda, baik yang tersembunyi maupun yang nampak. Coba gunakan kekuatan dan potensi Anda secara maksimal. Galilah potensi­potensi tersembunyi Anda yang masih bisa dikembangkan. Jika Anda bisa mengembangkan potensi Anda dengan baik, maka sukses tak akan jauh­jauh dari Anda.

Tangkap Peluang

Jangan hanya diam merenungi nasib. Anda harus jeli menangkap peluang atau kesempatan. Ingat, Anda tidak akan pernah mendapatkan kesempatan itu jika Anda sendiri tidak pernah berusaha mencarinya. Begitu Anda tahu ada peluang, tangkaplah peluang tersebut, jangan tunggu sampai besok.

Trial dan Error

Untuk meraih kesuksesan Anda perlu melakukan trial and error. Hal ini merupakan salah satu tolak ukur untuk menggapai kesuksesan. Tinggal sejauh mana kita mau dan berani mencoba kembali kegagalan itu. Sebelum mencoba kembali, pikurkan masak­masak langkah yang akan ditempuh.

Menyikapi Kegagalan
Satu hal yang paling membedakan antara orang sukses dengan tidak adalah bagaimana cara mereka menyikapi kegagalan. Seorang yang
berjiwa besar akan menganggap kegagalan sebagai bumbu kehidupan dan proses menuju keberhasilan. Sementara seorang pecundang
menganggap kegagalan sebagai momok yang menakutkan sehingga mereka putus asa dan menyerah.
Coba tanyakan kepada orang yang sukses apakah mereka pernah mengalami kegagalan? Jawabannya pasti pernah. Tahukah berapa banyak
kegagalan yang pernah mereka alami? Jawabannya mungkin bisa beragam, tapi tak jarang kita akan mendengar bahwa mereka telah gagal
puluhan bahkan ratusan kali sebelum akhirnya berhasil. Perbedaannya adalah mereka bangkit kembali dan berjalan lagi sampai akhirnya
bertemu dengan keberhasilan. Dan seandainya keberhasilan itu pun tak kunjung datang, bukankah kegagalan itu sendiri sebuah proses
pembelajaran yang mencerahkan?
Suatu hari Thomas Alfa Edison ditanya oleh asistennya ketika melakukan percobaan untuk membuat lampu pijar, “Anda telah melakukan
percobaan ribuan kali untuk menemukan bahan filamen yang tepat. Apakah Anda tidak lelah? Bukankah kita telah melakukan ini ribuan kali
dan tidak pernah berhasil?
Edison menjawab, “Dalam setiap percobaan, saya selalu belajar untuk menemukan bahan yang paling tepat untuk lampu pijar. Apa yang
kamu anggap kegagalan buat saya adalah keberhasilan yang tertunda. Saya yakin dalam waktu dekat saya akan menemukannya.”
Edison benar dan dia menjadi penemu lampu pijar yang kita nikmati sampai sekarang. Dia mengajarkan kegigihan dan semangat pantang
menyerah dalam menjalankan tugasnya. Sepanjang hidupnya, Edison telah menghasilkan ribuan paten atas penemuan­penemuannya.
Jangan pernah menyerah atas kegagalan. Itu adalah sebuah proses keberhasilan yang tertunda. Bangkitlah kembali dan jadilah orang yang
berjiwa besar yang tidak peduli berapa kali mereka akan terjatuh, dia akan berdiri dan berjalan lagi.
“Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, dan apabila ia mendapat
kebaikan ia amat tidak mau menyampaikannya kepada orang lain (kikir).” (QS. Al­Maa’arij [70]:19­21).
HIDUP yang kita jalani dipenuhi rintangan dan membutuhkan kekuatan diri untuk keluar dari rintangan yang menghadang. Kesulitan
ekonomi, penderitaan, dan ketidaksesuaian harapan dengan kenyataan adalah bentuk kongkrit rintangan tersebut. Bagi orang yang lemah
jiwanya, rintangan dipahami sebagai “batu sandungan” yang sulit dilalui. Fenomena bunuh diri, misalnya, notabene diinisiasi kelemahan jiwa
semacam ini. Karena impitan ekonomi, tak sedikit bunuh diri menjadi jalan menyelesaikan masalah kehidupan.Ayat yang saya kutip di atas
memberi pesan: kerapuhan jiwa dapat mengakibatkan lahirnya keluh kesah yang tak produktif. Ketika kesusahan hidup menerpa, tali kekang
moral agama menjadi longgar. Tak ayal lagi, kehidupan menjadi barang murah yang sedemikian tak berharga untuk dijaga kelangsungannya.
Seorang gadis, rela melompat dari gedung bertingkat hanya diakibatkan masalah sepele: putus dengan kekasihnya. Seorang pengusaha
melakukan hal yang sama, karena sedang menghadapi kemelut masalah di perusahaannya. Mereka memahami hidup hanya dengan
menggunakan rumus keinginan mesti berbuah kenyataan.
Padahal rumus kehidupan tidak seperti itu. Adakalanya keinginan melahirkan kegagalan atau ketidaksesuaian dengan realitas hidup. Maka
sewajibnya moralitas agama diperkokoh kembali dalam diri kita. Sehingga hidup mewujud dalam bentuk yang asyik­masyuk. Ruang dan
waktu yang dijalani dengan keikhlasan penuh bahwa Dia (Allah) sedang menguji kadar keimanan kita pada­Nya. Ingat, lemparan batu tentu
saja tidak semuanya akan mengenai target yang sama. Artinya, pengharapan adakalanya tidak sesuai dengan yang kita rancang. Pada posisi
ini, kesabaran dan ketabahan merupakan benteng pertahanan yang super­duper efektif meredam keinginan mengakhiri hidup kala masalah
menerpa.
Seorang muslim sejati, ialah individu yang dapat mengoptimalkan potensi diri untuk mewujudkan harapan, tanpa terpaku pada hasil. Dia
(Allah) akan memberikan berkah tak terkira meskipun harapan itu gagal terwujud. Karena dengan kegagalan tersebut, kita dapat mempelajari
kekurangan sehingga di lain waktu dapat dikurangi. Inilah letak keberkahan tak terkira. Kita, dengan kegagalan yang menimpa akan
membentuk jiwa hingga menjadi kokoh. Alhasil, muncul sikap hati­hati, awas dan waspada ketika menyusun program kerja kehidupan. Dalam
pepatah disebutkan, seorang manusia bijaksana adalah orang yang tidak akan terperosok pada lubang yang sama.
Di dalam Al­quran dijelaskan, “Dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan (memberi potensi) pada jiwa
kefasikan (pengingkaran terselubung) dan ketakwaan. Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa dan merugilah orang yang
mengotorinya.” (QS. Asy­Syams [91]: 7­10).
Term “takwa” memiliki arti dasar, sebuah ketakutan jiwani. Ketika rasa takut dikelola secara bijak, positif dan sistematis, tentunya lahirlah
sebuah kondisi psikologis yang awas dan waspada. Namun, ketika perasaan takut tidak dikelola secara bijak, positif dan sistematis akibatnya
akan melahirkan keluh kesah, putus asa, dan bosan menjalani kehidupan. Tak heran kalau bunuh diri menjadi solusi pavorit orang semacam
ini. Kekuatan dalam dirinya telah hilang dan berangsur­angsur membawanya jadi zombie yang tak sadar antara ide dan realitas kadang tidak
sesuai.
Danah Zohar dan Ian Marshall (Spiritual Capital, Mizan, 2006) mengatakan untuk menjalani kehidupan diperlukan keberanian mengubah
pola pikir mengenai pondasi filosofis dan praktik keseharian. Khusus di dunia bisnis, katanya, selain modal intelektual (intellectual capital),
modal manusia (human capital), dan modal sosial (social capital); tahap yang lebih maju adalah adanya modal spiritual (spiritual capital). Di
mana sebuah aktivitas tidak melulu dipahami sebagai keuntungan dan laba material. Tapi keuntungan yang lebih mengarah pada
terciptanyanya makna, nilai, pengetahuan dan ilmu.
Begitu pun dalam praktik keseharian, kita mesti memompa potensi diri sehingga terbentuk “modal spiritual” agar dapat memahami hidup
sebagai ladang beramal saleh. Tanpa memiliki modal seperti ini, mind set kita akan menempatkan hidup sebagai barang murah yang dapat
diakhiri dengan bunuh diri. Pola pikir seperti inilah yang mesti ditumpurludeskan dari dalam diri. Pesimisme dalam Islam tak dianjurkan.
Seperti diungkapkan Buya Safi’i Ma’arif, kalau saja Al­Quran mengajarkan doktrin pesimisme, saya orang pertama yang mendukung.
Sayangnya, Al­Quran (Islam) hanya mengajarkan doktrin kehidupan optimisme.
Masa depan merupakan “bumbu kehidupan” yang dapat melecut gairah menjalani realitas kehidupan. Kewajiban kita sebagai manusia
beragama salah satunya menabur benih­benih optimisme guna menggapai keberkahan hidup. Bukankah Al­quran mengingatkan, “Hai orang­
orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok
(akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.”(QS. Al­Hasyr [59]:18).
“Kegagalan adalah ketidakmampuan menghadapi sesuatu yang diluar batas kemampuan kita, sedangkan keberhasilan adalah kemampuan tanpa
batas yang muncul secara alami dari dalam diri kita untuk menghadapi sesuatu yang diluar batas kemampuan kita”
Setiap orang pasti pernah mengalami “Kegagalan”. Kegagalan yang berasal dari kata dasar “Gagal” merupakan suatu kondisi dimana kita
tidak mampu mencapai suatu tujuan ataupun meraih suatu keinginan. Banyak orang didunia ini yang sering mengalami kegagalan, tak
terkecuali yang nulis.
Dari sekian banyak orang tersebut, aku pribadi lebih dan akan memberi acungan 4 jempol buat para ilmuwan dan penemu dalam segala
bidang, baik itu sains maupun non sains. Misalnya seorang tokoh penemu pesawat telepon yaitu Alexander Graham Bell. Apakah kita tau,
berapa kali dia melakukan percobaan dan berapa kali dia gagal...? kita semua tidak tau pasti dan yang kita tau justru penemuan yang sampai
saat ini masih digunakan dan dikembangkan lagi.
Seorang ilmuwan seperti A G Bell tersebut sudah mendedikasikan dirinya untuk satu hal, yaitu project ilmiah yang di garap. aku dan kamu
tentu yakin, bahwa A G Bell pernah mengalami kegagalan...cuma masalahnya disini, kenapa dia bisa berhasil menyelesaikan projectnya
tersebut meskipun mengalami berbagai kegagalan....
Pertanyaan yang akan dan pasti ditanyakan oleh semua orang yang pernah dan bahkan selalu gagal disetiap misi dan tujuan yang ingin
dicapai baisanya adalah “BAGAIMANA CARA TERBAIK MENYIKAPI KEGAGALAN” ?
Ya...bagaimana cara terbaik untuk menyikapi kegagalan itu ???
Berikut ini ada bebrapa cara yang mungkin bisa menjadi referensi bagi siapa saja yang mau mencoba menyikapi kegagalan secara positif :
1. Tanamkan dalam diri anda bahwa kegagalan merupakan sebuah pelajaran berharga yang tidak akan pernah anda dapatkan
di manapun. Seseorang yang mengalami kegagalan biasanya merupakan orang yang ingin berubah atau ingin selangkah lebih maju
yang dalam perjalanannya menuai kegagalan. Jika kita yakin bahwa gagal=pelajaran, maka kita akan mulai belajar dari kegagalan
itu dan berusaha untuk menaklukkan kegagaln itu sehingga terwujudlah kesuksesan yang hakiki.
2. Pelajari hal­hal yang berhubungan dengan tujuan yang ingin anda capai dengan sungguh. Mencoba adalah sesuatu yang
mutlak harus dilakukan ketika anda menginginkan perubahan. Tapi pernahkan terpikir dalam benak anda untuk lebih
memantapkan diri dulu sebelum melangkah lebih jauh.
3. Maju terus pantang mundur. Kalau udah gagal kebanyakan paasti nyerah, nah bagi anda yang ingin terus maju tanamkan dalam
diri anda untuk maju terus pantang mundur.
4. Ceritakan masalah kegagalan anda kepada orang­orang terdekat anda. Bagaimanapun juga, kita hidup butuh orang lain apalagi
peran keluarga didalam manggapai cita2 adalah sangat besar. oleh karena itu, jangan sungkan untuk curaht dan menceritakan
semuanya kepada keluarga anda. karena keluarga anda adalah supporter utama anda dalam meraih tujuan , angan, impian dan
cita­cita.
5. Jangan lupa berdo’a. Segala sesuatu yang terjadi didunia ini pasti atas kehendakNYA. oleh karena itu sangat aku sarankan untuk
berikhtiar dan berdoa kepada yang maha kuasa dan kita harus yakin bahwa suatu saat kita akan berhasil meskipun saat ini kita
terus menuai kegagalan.
6. Pelajarilah segala sesuatunya sebelum anda melangkah lebih jauh. Ibarat anak sekolahan, sebelum menghadapi ujian,
malamnya harus belajar. hal ini juga harys anda lakukam ketika anda gagal dan ingin mencoba lagi. sebelum mencoba lagi, ada
baiknya anda mempelajari segala sesuatunya terlebih dahulu dengan lebih cermat dan hati2.
Tak ada gading yang tak retak, tak ada sesuatu yang sempurna didunia ini. sepenggal tulisan ini mudah2an dapat mambantu memberi udara
segar bagi saudara2ku yang kerap kali menuai kegagalan.Namun pada hakekatnya, segala sesuatunya tidak akan pernah terjadi tanpa ijin dan
kehendak yang maha kuasa.
Tips Untuk Menghadapi Kegagalan
Bersikap dan Berfikir Positif Terhadap Kegagalan.
Ingat! Kegagalan bukanlah sesuatu yang harus ditakuti. Tanpa ada sikap positif, Anda akan semakin stress setelah mengalami kegagalan. Anda
seakan kehilangan energi untuk bangkit kembali karena selalu dibayang­bayangi takut gagal. Dengan bersikap, positif, Anda memandang
suatu kegagalan sebagai peristiwa hidup yang harus dialami (proses kehidupan). Dengan demikian, mental Anda akan semakin kuat.
Percayalah pasti ada sebuah hikmah dari sebuah kegagalan.
Mencari Penyebab Kegagalan.
Renungkan diri sendiri, apa yang menjadi penyebab Anda gagal? Secara umum, ada dua faktor utama penyebab kegagalan, yaitu faktor
internal dan faktor eksternal. Faktro internal merupakan faktor yang berasal dari dalam diri sendiri. Ada kalanya Anda kuran memiliki
semangat dan mptovasi dalam mengerjakan sesuatu atau mungkin Anda tidak disiplin dan ceroboh dalam bekerja. Jika Anda menyadari
penyebab internal ini, maka harus Anda sendiri yang merubahnya. Ingat! sukses atau tidaknya Anda dimulai dari dalam diri sendiri, jika Anda
bisa memotivasi diri sendiri, selanjutnya Anda akan lebih ringan melangkah. Sedangkan faktor Eksternal merupakan faktor penyebab di luar
diri sendiri. Misalnya kurangnya dukungan dari orang terdekat, pesaing yang terlalu banyak dan ketat, atau kurangnya fasilitas dan
sebagainya.
Atasi Kegagalan
Setelah mengetahui kegagalan, Anda harus segera mencoba mengatasinya. Tidak perlu harus mengatasi semua penyebab kegagalan sekaligus,
ada baiknya dilakukan secara bertahap tetapi pasti. Prioritaskan penyebab utama, kemudian penyebab lainnya. Karena itu, buat catatan
tenatng hal­hal yang sering membuat Anda gagal, apakah faktor internal atau eksternal (buat skala prioritas). Jangan mencari kambing hitam
dalam mencari penyebab kegagalan Anda.
Gali Kekuatan Diri
Selain mencari penyebab kegagalan, catatlah apa saja kekuatan dan potensi diri Anda, baik yang tersembunyi maupun yang nampak. Coba
gunakan kekuatan dan potensi Anda secara maksimal. Galilah potensi­potensi tersembunyi Anda yang masih bisa dikembangkan. Jika Anda
bisa mengembangkan potensi Anda dengan baik, maka sukses tak akan jauh­jauh dari Anda.
Tangkap Peluang
Jangan hanya diam merenungi nasib. Anda harus jeli menangkap peluang atau kesempatan. Ingat, Anda tidak akan pernah mendapatkan
kesempatan itu jika Anda sendiri tidak pernah berusaha mencarinya. Begitu Anda tahu ada peluang, tangkaplah peluang tersebut, jangan
tunggu sampai besok.
Trial dan Error
Untuk meraih kesuksesan Anda perlu melakukan trial and error. Hal ini merupakan salah satu tolak ukur untuk menggapai kesuksesan.
Tinggal sejauh mana kita mau dan berani mencoba kembali kegagalan itu. Sebelum mencoba kembali, pikurkan masak­masak langkah yang
akan ditempuh.

0 komentar:

Poskan Komentar